Suami selalu meletakkan pakaian kotor sembarangan, tak peduli CD dan DVDNya berserakan, dan tak mau menolong ketika pembantu pulang kampung. Istri malas cuci piring, setrikaan tak pernah beres? Ah, betapa kesalnya!
Hubungan suami istri memang ternyata tak soal cinta, perhatian dan komunisasi yang lancar. Tapi juga kemauan berbagi tanggung jawab tugas-tugas rumah tangga. Memang bukan urusan sederhana.
Hadapi Perbedaan
Menikah adalah proses belajar terus-menerus. Pasangan harus bersedia terus belajar tentang pasangannya. Bila ingin perkawainan sukses, kedua pihak sebaiknya mau membuka diri untuk belajar hal-hal baru. Bila mengalami benturan, lakukan hal-hal ini untuk mengatasinya :
* Mulai dengan kesadaran sama : suami dan istri sama pentingnya dalam sebuah perkawinan. Maka suami dan istri perlu berbagi tanggung jawab agar kehidupan lebih nyaman bagi kedua pihak.
* Komunikasikan dengan terbuka harapan masing-masing pihak.
* Diskusikan pembagian tugas. Berikan tugas yang diminati pasangan. Misalnya istri lebih suka memasak tapi tak suka bersih-bersih, dan ternyata suami lebih suka kerapian, maka suami bertanggung jawab pada kerbersihan rumah. Atau jika suami suka masak tapi tak suka beberes, mengapa tak memberinya kesempatan menyiapkan makan malam.
* Tak perlu berhitung soal siapa lebih banyak tugas. Rumah tangga adalah milik berdua. Jadi, Anda perlu ringan tangan membantu pasangan ketika ia tampak kewalahan dengan tugas-tugasnya
* Jika suami, berlapang dada jika ia bersedia membantu merapikan rumah tapi ternyata hasilnya tak sesuai harapan Anda. Hargai niat tulusnya dan tak perlu mengritik hasil kerja
* Atur sebuah ruang atau pojok khusus untuk pasangan yang punya kegemaran khusus seperti senang mengumpulkan pernak-pernik atau suka merakit mainan, agar berantakan hanya terjadi pada sisi tersebut. Bagian lain dalam rumah bis tetap rapi.
AGAR DIA MAU .....
Usaha 1 : jangan putus asa jika pasangan enggan membantu Anda. Anda bisa mendidiknya
Usaha 2 : Bila pasangan salah atau gagal saat melakukan tugas rumah tangga, tak perlu jadi bahan pertengkaran. Bukan berarti ia ogah-ogahan melakukannya, tapi bisa jadi karena ia belum pernah melakukan tugas selanjutnya dengan lebih baik.
Usaha 3 : Jangan bandingkan keluarga Anda sekarang dengan keluarga Anda sendiri. Bukan berarti tak boleh mewarisi pola pembagian peran yang baik, Anda harus yakin pasangan setuju denga adopsi pola tersebut. Bicarakan dulu dengan pasangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar